Punya Website Jualan Jadi Laris? Kata Siapa!

Kali ini saya mau menulis sedikit ulasan terkait kalimat sesuai judul di atas, “Punya Website Jualan Jadi Laris? Kata Siapa!”. Tidak ada yang salah dari pertanyaan itu, bahkan saya juga ada di pihak yang sama dengan orang-orang yang berkata seperti itu, meskipun saya jual jasa pembuatan website.

Malah biasanya saya sering bertanya dulu kepada calon klien saya, sekaligus memberikan sebuah statement dengan kalimat, “Mas/Mbak, kita perlu satu pemahaman dulu, bahwa dengan dibuatnya website, tidak akan serta merta membuat bisnis Anda laris. Jadi jika ingin tetap lanjut, silahkan pikirkan resiko ini”.

Lantas, kenapa klien saya harus susah-susah keluar uang buat sesuatu yang gak berguna seperti ini? Baik, jadi seperti ini, kita analogikan saja website itu seperti kedai bakso.

Kedai bakso itu bisa bikin laris dagangannya, nggak? Bisa iya, bisa tidak. Karena kita belum tahu bagaimana si owner kedai bakso tadi bekerja, meracik baksonya, melayani pelanggannya hingga mengatur promosi kedainya.

Artinya, punya website itu bukanlah seperti orang pesugihan, yang katanya sekali buat langsung auto laris, katanya… ya. Karena ada banyak proses yang perlu dilalui untuk sampai ke sana. Maka dari itu, tidak semua website di internet punya nasib yang sama.

Sama seperti pemilik kedai bakso, tidak semua dagangannya ramai pelanggan dan laris manis. Hingga dapat kita katakan, justru man behind the gun lah yang menentukan ini.

Baiklah, anggap saja kita semua sudah paham terkait situasi ini. Kemudian, saya akan coba bahas lebih dalam mengenai si “kedai bakso” ini dari segi kenapa tidak bisa bikin laris.

Oh ya, ini hanya trik dan tips ya dan kemungkinannya berhasil hanya 95% saja, karena 5%-nya adalah faktor lain seperti cuaca dan perubahan iklim takdir yang sudah ditulis 50 ribu tahun lalu. Oke deh, sebelum jadi panjang lebar, yuk bahas!

Kenapa Tidak Bisa Bikin Laris?

Ada banyak alasan yang bisa ditemukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Dalam artikel ini, saya akan coba menguraikannya untuk Anda. Semoga kedepannya dapat menjadi manfaat buat bisnis Anda. Silahkan ikuti penjelasan berikut ini:

Mindset Anda Sendiri

Jangan biarkan Anda terkungkung dengan kata-kata ‘motivasi’, “ini dia trik rahasia cari duit gampang dari internet”, “wanita ini menghasilkan ratusan juta sehari hanya dengan website”, “jutaan orang tidak menyadari bahwa internet adalah tambang emas di zaman Jokowi” dan lain sebagainya.

Memang, tidak bisa juga kalimat-kalimat tersebut salah, ada kok yang berhasil, sebut saja Mark. Seorang mahasiswa, yang membuat website ber-domain thefacebook.com kemudian di ubah menjadi facebook.com, kini mampu menghasilkan belasan hingga puluhan juta rupiah dalam setiap detiknya.

Ya, apa Anda seberuntung dia? dengan skill yang sama, timing yang sama, lingkungan yang sama, dan teman sekamar yang sama. Tidak, kan?.

Mindset Laris, Image by Steve Buissinne from Pixabay

Makanya, mindset seperti ini harus Anda ubah dulu. Buat yang udah kadung ga bisa diubah, coba Anda refreshing dulu, lihat kegagalan di sekitar Anda, terutama diri Anda sendiri.

Insya Allah Anda akan temukan pencerahan. Karena dengan memulainya seperti ini, Anda akan terlepas dulu dari belenggu kesesatan informasi mengenai apa itu website, dan bagaimana ia bekerja.

Pada dasarnya, website itu merepresentasikan sebuah bisnis di dunia tiga dimensi (nyata.red). Lalu di buat dalam bentuk dunia maya (digital) sehingga banyak fitur-fitur yang tidak kita dapatkan saat di dunia nyata, dapat kita manfaatkan di dunia digital.

Sebagai contoh, saat pembayaran, kadang hampir tidak mungkin Anda tanya satu per satu nama pelanggan Anda siapa, tinggal dimana, nomor HP nya berapa. Tapi di website, mau tidak mau mereka harus sebut, kan? oh ya, ini salah satu contoh saja dari sekian banyak yang lainnya.

Jadi secara umum, website akan sangat mencerminkan, bagaimana kesuksesan bisnis di dunia nyata. Ada effort, keyakinan, mentalitas baja, hingga keuletan dalam menjalankannya.

Karena proses berbisnis jauh berbeda dengan proses masak mie instan. Sayangnya, ini lah yang kerap dianggap kebanyakan orang, padahal bukan.

Ingat ya, mindset Anda.

Tidak Mempromosikannya

Ya, iyalah!. Memangnya bakso Anda bisa laku tanpa promosi?

“Bisa kok, ini hari pertama langsung ramai setelah saya ajak teman-teman saya di grup WA untuk datang ke sini”.

Hmm… Bukannya itu masuk kategori promosi juga ya? mungkin dan sepertinya iya. Sebab, kata om Kotler (2000:119), Promosi adalah bagian dan proses strategi pemasaran sebagai cara untuk berkomunikasi dengan pasar, dengan menggunakan komposisi bauran promosi (promotional mix).

Hmmm… Ribet nih om Kotler. Ya intinya, ketika calon konsumen Anda, Anda kasih tau bahwa Anda buka kedai bakso dan baksonya Anda yang jual langsung, itu sudah terkategori promosi. Titik.

Adwords, Image by William Iven from Pixabay

Nah, sampai di sini dapat dilihat, jika web Anda tidak Ada pengunjung, pasti sebabnya cuma satu, Anda tidak promosi! Betul tidak?

“Enak aja! udah dong saya promosi, udah sebar di grup, bikin iklan di FB, google ads, sampe bikin billboard loh!”

“(wowww!), Mungkin iklannya ga bagus kali…!”

“Bagus kok, saya sudah beli template iklan dan video yang jumlahnya ratusan, mana desainnya keren-keren”

Wah, saya tidak bisa lagi bilang Anda tidak promosi. Tapi, apakah Anda yakin bakso yang Anda jual sesuai promosi Anda? Nah, mungkin saja tidak. Ini yang juga bisa disebut dispromosi.

Anda sudah mempromosi kan, tapi ketika pelanggan atau calon pelanggan mengunjungi website Anda, malah mereka tidak menemukan yang mereka cari. Bisa jadi karena value yang mereka cari, tidak sesuai dengan produk Anda di web, padahal di papan promosi yang Anda buat, sesuai dengan preferensi mereka.

Jadi, jangan sampai tidak berpromosi, dan pastikan promosi Anda sesuai dengan value yang Anda berikan.

Tidak Memahami Seperti Apa Alur Closing pada Website

Sebagian negara, bisa menggunakan pola checkout dengan formulir di akhir pemesanan, tapi sebagian lain tidak. Contoh negara kita sendiri, Indonesia. Di sini, pelanggan sangat merasa kesulitan apabila harus melalui step-step yang menyulitkan Itu.

Karena hidup kita dan mereka sudah dipersulit oleh banyak birokrat, maka kita bosan dengan hal seperti ini.

Lantas, bagaimana? kan kita butuh data mereka, minimal untuk telpon dan kirim barangnya. Ya, ini yang harus lebih banyak kita pikirkan lagi. Anda butuh riset lebih banyak tentang ini.

Sebab, Anda tidak bisa membuat aturan yang orang lain tidak mau ikut di dalamnya. Sedangkan bisnis dengan konsep pasar terbuka, meskipun Anda yang membuat, justru aturan itu sepenuhnya milik pembeli.

POS Kasir, Image by Rudy and Peter Skitterians from Pixabay

Sekarang, coba Anda perhatikan aplikasi marketplace yang ada di smartphone Anda? apakah saat checkout diminta isi ini itu? Ada!. Tapi hanya di awal kan. Selanjutnya dia mengisi otomatis.

Nah, makanya, buat form Anda sesimpel mungkin dulu saat checkout perdana. Minimal, nomor HP, Email dan Alamat pengiriman saja yang ada, biarkan nanti setelah mereka belanja lagi, mereka bisa melengkapi kemudian untuk data lainnya.

website hanya Sebatas Papan Reklame

Papan reklame itu cuma penunjuk lokasi, walaupun ada sebagian orang yang di dalamnya juga ditulis tentang produk layanannya.

Misal, ada yang hanya menjadikan website hanya satu halaman, memberikan nama usaha, kasih logo, tapi lupa menjelaskan produk (ini bukan soal landing page ya). Ditambah, dia tidak memberikan penjelasan bagaimana cara membelinya.

Papan Toko, Image by Free-Photos from Pixabay

Setelah itu, dia biarkan saja papan reklame nya sampai berkarat hingga tak terlihat. Alias, dia membiarkan webnya begitu saja, tanpa dipormosikan, diisi kontennya hingga diperbaharui serta dipantau trafficnya.

Padahal dengan kecanggihan yang ada pada websitenya, dia bisa banyak membuat pelanggannya merasa lebih mudah mendapat layanan atau produk yang ia berikan.

Tidak Membangun Keterkaitan Antara Bisnis dan Webnya

Bisnis atau usahanya adalah suatu hal, sedang website adalah hal lainnya. Ini adalah kesalahan fatal. Jangan mentang-mentang canggih, Anda buat website menjadi sesuatu yang lain dari bisnis Anda.

Maksud saya seperti ini, jika di dubia nyata Anda jual Bakso, sedang di internet Anda jualnya baju gamis. Bukannya melarang Anda untuk buka usaha sampingan, tapi ini akan memperburuk kinerja Anda di dunia nyata.

Nyambung, Image by Jerzy Górecki from Pixabay

Harusnya website bekerja penuh untuk usaha Anda. Jika Anda jual bakso. Biarkan website Anda membantu Anda di sistem kasir, pemesanan online hingga analisa selera pelanggan dari waktu ke waktu.

Ini secara otomatis, akan menambah wawasan Anda terhadap perilaku pelanggan Anda. Toh akhitnya ini akan menjadikan bisnis Anda laris kan? dari pada Anda harus jual yang lain.

Konklusi

Nah, mungkin itu saja sekilas wawasan mengenai website yang tidak serta merta membuat dagangan Anda jadi laris, walaupun masih banyak lagi alasan lainnya yang belum bisa kita bahas.

Yang pasti, website itu salah satu alat sekaligus tempat, untuk menampung, mendapatkan, dan mennerima kedatangan pelanggan Anda untuk menikmati layanan atau produk jasa yang Anda tawarkan.

Pastinya perlu Anda ingat, website bukan alat ajaib yang mendatangkan pelanggan dengan sendirinya. Semua ada dan butuh prosesnya.

Sekian, terima kasih.

Oh iya sampai lupa, Artikel ini disponsori oleh WPids – Jasa Pembuatan Website WordPress Professional. Kalau bisnis Anda atau rekan Anda butuh dibuatkan website, pesan jasanya di WPids aja ya. Jangan lupa!

Tinggalkan komentar