Situs Web vs Media Sosial, Mana yang Lebih Relevan dengan Zaman?

Membandingkan situs web dan sosial media tidaklah sulit, tapi tidak juga bisa dibilang mudah. Apalagi dalam era yang semuanya sudah serba terintegrasi, seperti hari ini. Dimana internet semua sudah dalam genggaman. Kondisinya pun sudah jauh berbeda dibanding 20 tahun lalu, saat mau buka internet harus ke internet cafe (bahkan warnet pun belum ada). Masa ini banyak disebut oleh kebanyakan kita sebagai masa emasnya situs web atau website (atau orang sering bilang zaman WWW atau zaman dotcom). Ya, benar, semua ada zamannya, semua ada bagiannya.

Sedangkan pada era yang katanya puncak 4.0 ini, media sosial seakan menjadi raja segalanya, e-commerce, social platform, donasi hingga company profile pun memakai platform ini. Mau cari orang jualan tas, buka Instagram. Mau cari property, buka Marketplace Facebook. Bahkan home shopping pun sudah bisa live di grup dan feed Facebook. Dari sini, setidaknya kita sudah bisa melihat, siapa yang sebenarnya relevan dengan zaman.

Tapi, tunggu dulu. Bukannya Facebook itu situs web, dan Instagram juga termasuk web apps? nah, itu kan situs web juga dong artinya. Ya, tepat! di sini sulitnya kita menemukan mana yang lebih relevan. Pada dasarnya seluruh platform internet berdiri di atas situs web, mau apa pun bentuknya. Lagi-lagi selalu ada struktur database, server, client ui/ux. Semuanya seperti itu, mau Facebook, Instagram, Whatsapp, Telegram, dll. Lantas, bagaimana kita bisa menyimpulkan konklusi dari judul di atas? yuk, coba kita breakdown dulu fiturnya.

Kontrol penuh atas merek Anda

Coba bandingkan bagaimana Anda mengelola merek dengan sebuah akun media sosial dan sebuah situs web. Secara nalar Anda akan terbayang apa yang Anda akan lakukan ketika memulainya dengan sebuah platform media sosial, katakanlah Instagram. Pasti Anda akan mulai dengan membuat akun, mengupload foto profil, membuat konten, mengatur bio, kasih link di bio. Eh, kasih link, berarti butuh website ya? okelah nanti kita bahas lagi.

Tapi, coba Anda bayangkan, kalau Anda memulai dengan situs web. Kemudian mulai bertanya, “mau mulai dari mana ya? sebentar, saya coba tanya temen yang ngerti IT dulu. Oh ya, harus beli hosting dulu, trus pilih platformnya lalu atur templatenya, buat kontennya dari nol, bikin blog, dll. Ribet ya”. Iya, memang! tapi ada alasannya. Dengan begitu kan Anda bisa bebas mengatur konten tata letak dan fungsinya sesuka hati.

Image by S. Hermann & F. Richter from Pixabay

Dengan media sosial, Anda hanya bisa mengatur seperlunya, bahkan Anda butuh-butuh juga situs web, entah sekedar gunakan link ke Whatsapp atau mengarahkan ke landing page (web-web juga). Ini yang kita sebutkan di atas bahwa kita butuh link yang akan menghubungkan media sosial kita ke satu platform yang lebih lengkap dan bebas secara fitur.

Dari sini kita setidaknya bisa menilai, bahwa kebebasan mengelola sebuah merek dengan segala atributnya akan lebih leluasa jika dilakukan dengan situs web dan akan lebih mudah dilakukan dengan media sosial meski sangat terbatas. Maka secara keleluasaan, kita anggap situs web lebih unggul dalam hal pengelolaan merek.

Titik tolak kredibilitas

Siapa bilang orang yang bisnis dengan media sosial tidak kredibel? ya ada aja sih yang bilang, mungkin. Sebab, hingga hari ini, banyak kok perusahaan besar yang menggunakan media sosial untuk meningkatkan interaksi dengan pelanggannya. Ya, betul, sangat banyak. Akan tetapi, yang mereka lakukan adalah membangun enggagement bukan reputasi atas kredibilitas.

Lantas, apakah bisnis akan kredibel dengan adanya situs web? jawabnya: ada pada Anda sendiri, toh positioning-nya kan ada di benak Anda. Menurut penulis sih, ya lumayan sekali. Karena, pertama: untuk mendapatkan domain sesuai nama perusahaan itu tidak mudah, at least harus beli domain dari puluhan tahun lalu biar harganya murah meriah.

Kalau perusahaan Anda sudah besar, terus baru mau buat situs web sekarang, dijamin, domainnya bisa puluhan juta, bahkan milyaran. Belum percaya, silahkan dicoba gih, caranya cari perusahaan besar yang belum punya situs, terus carikan nama domain untuk mereka yang sesuai dengan citra dan nama perusahaan/brand, kalau bisa pakai dotcom, karena kita cuma familiar sama ekstension satu ini. Lalu cek harganya, gimana? Ayo, coba dulu deh kalau belum percaya.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Tapi akan beda kalau perusahaannya belum besar dan terkenal, mungkin domainnya hanya seratus ribuan, ya seperti domain wpids.com kami ini. Begitu juga untuk Anda jika masih merintis usaha, mungkin domainnya belum selangit, kecuali jika Anda pakai nama usaha yang bener-bener generik.

Kedua: server atau hostingnya dan ditambah jasa pembuatan situs webnya kalau Anda tidak bisa bisa buat sendiri. Kalau pun Anda bisa buat sendiri, memangnya berapa lama Anda akan menuntaskan situs web nya? Soalnya, penulis belum yakin betul kalau webnya bisa selesai dalam seminggu. Nah, kalau seminggu belum selesai juga, kapan bisnisnya dong? (ya udahlah, pakai jasa orang lain aja, itung-itung bantu roda ekonomi muter makin kenceng).

Kembali lagi ke kredibilitas, Artinya dengan sebuah platform yang gratis justru tidak akan membuat kredibilitas Anda akan tinggi, bahkan cenderung dipandang sebelah mata oleh calon pelanggan Anda. Karena secara tidak langsung, Anda hanya memberi effort yang kecil, untuk melayani mereka (ini bukan tentang solve the problem ya). Sedangkan dengan menggunakan platform yang berbayar, setidaknya Anda sudah membuktikan kesungguhan dan tekad untuk terus optimal melayani pelanggan (Itu kata klien saya loh).

Kesimpulannya untuk ini, membangun interaksi dengan pelanggan, cukup hanya dengan media sosial. Namun untuk meningkatkan kredibilitas di mata mereka, Anda memerlukan situs web yang menjadi muara layanan, produk hingga identitas dari bisnis Anda.

Kemudahan akses setelah disebutkan

Maksudnya? maksudnya, ya setelah orang menyebut bisnis Anda, atau nama perusahaan Anda di Whatsapp, orang bisa langsung googling, bayangkan kalau orang cuma asal nyebut nama bisnis Anda, terus carinya di Instagram, lah yang ketemu malah bisnis tetangga, gara-gara namanya cuma beda satu huruf, ya rugi dong.

Image by Robinraj Premchand from Pixabay

Untuk perbandingan ini sepertinya situs web lagi-lagi menang. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar juga Anda pasti paham. Belum lagi dengan sistem penjualan berbasis Affiliate –itu yang pake kode-kode referral atau klik link langsung diskon– mana mungkin bisa membuat sistem seperti itu kalau Anda hanya menyertakan link Instagram di Whatsapp, apalagi pakai link wa.me. Paling maksimal, Anda buat link bit.ly/blablabla terus lari ke landing page, yang itu sebenarnya web-web juga.

Kesimpulannya, silahkan simpulkan sendiri lah ya.

Wawasan pelanggan yang lebih baik

Bagaimana selama ini Anda memantau pengunjung bisnis Anda? untuk yang bisnisnya masih offline, ya mesti kenal satu-satu, atau minimal hafal nomor plat mobilnya, trus catet kapan datengnya, berapa lama pilih belanjaan, berapa duit belanjanya, dst. Nah untuk yang sudah pakai FB ads, mungkin bisa lihat wawasannya secara tertarget seperti lokasi, gender, minat, dsb. Nah, terus gimana yang sudah pakai situs web? pastinya pakai Google Analytic dong. Canggih ya? ya iyalah. Lebih canggih malah. Dari sini harusnya rujukan riset Anda beriklan dan promosi berasal.

Image by StockSnap from Pixabay

Karena wawasan terbatas yang diberikan oleh media sosial, jadinya kita malah kesulitan untuk berinovasi. Yang ada, kita terlalu fokus melakukan penetrasi terhadap pasar yang niche tanpa memperhatikan core bisnis yang sebenarnya sedang kita bangun. Namun akan berbeda jika kita melihat dari perspektif yang lebih luas, dan dengan gambaran yang lebih umum namun padat, ini akan kita temukan di analisa yang lebih komprehensif lewat google analytic. Kita akan leluasa menentukan strategi pemasaran baik jangka pendek maupun panjang.

Masih mau bandingin lagi antara media sosial dan situs web? yuk lanjut.

Automisasi bisnis

Memangnya kenapa Google, Facebook dan raksasa internet lainnya rela keluar duit banyak bayar orang mahal-mahal untuk sebuah situs web bernama google.com dan facebook.com? jawabannya ya cuma satu, gimana caranya supaya bisnis bisa cuan, cengli, & cincai. Titik!. Dibalik bisnis yang tiga C itu, mereka membangun proses yang sangat disenangi oleh pelanggannya, di sini lah situs web akan bekerja.

Contoh kasus, untuk Anda yang suka menggunakan FB ads, apa rasanya? gampang kan? coba bayangkan, kalau Anda order FB ads harus DM dulu ke akun Instagram yang followernya 347 jutaan itu, terus harus antri approval bersama jutaan pelanggan lain, ditambah tunggu konfirmasi pembayaran manual dari adminnya. kebayang kan, repotnya.

Image by Martinelle from Pixabay

Di sinilah fungsi automisasi situs web bekerja, ini tidak mungkin dilakukan hanya dengan media sosial. Meskipun ada, pastilah penyedia jasa menggunakan platform berbasis web, dan Anda harus bayar (juga) untuk itu. Ya, lagi-lagi situs web menang lah.

Konklusi

Sebetulnya, agak tidak relevan membandingkan situs web dan media sosial secara teknologi, karena media sosial adalah bagian dari situs web. Maka dari itu, penulis Akan sedikit memberi kesimpulan dan rangkuman secara non teknologi.

Pada hakikatnya media sosial adalah kerumunan orang yang perlu kita datangi atau kita arahkan, ke toko kita yang misal beralamat di jalan A agar mereka mau berkunjung, lalu melihat semua barang dagangan kita, dan akan sangat menarik apabila kita bisa mendesain toko kita dengan desain yang berbeda dari toko sebelah ditambah interior yang khas tentu akan menjadi positioning tersendiri di benak konsumen. Nah, toko kita inilah sebuah situs web itu.

Atau bisa juga analogi ini, media sosial adalah kompleks perumahan subsidi pemerintah, yang di dalamnya ada rumah tipe 36, yang semua bentuknya sama dan tidak boleh diubah (kalau diubah subsidi dicabut). Anda tinggal di sana boleh berinteraksi dengan tetangga, jualan, buka warung kecil-kecilan, tapi Anda tidak boleh membuka kios di depan rumah, jika Anda mau jualan, Anda harus beli ruko di dekat gerbang komplek yang harganya jauh lebih mahal.

Sedangkan situs web, adalah tanah kavling atau hektaran yang Anda beli (tapi rumah Anda tetap di komplek ya), dan lokasinya tidak jauh dari komplek subsidi di atas. Kemudian, Anda cari arsitek untuk merancang kantor, resto, toko, kedai mi ayam or anything sesuai dengan yang Anda inginkan. Lalu Anda bangun di tanah itu, dan Anda berpromosi ke tetangga Anda dengan brosur atau billboard besar di depan gerbang bahwa Anda punya ‘situs web’ yang dibangun sendiri di dekat komplek mereka. Dengan demikian, Anda bebas menentukan bangunan seperti apa yang akan Anda buat.

Nah, dari dua analogi di atas dapat disimpulkan bahwa sosial media dan situs web adalah platform yang saling melengkapi satu sama lain untuk bisnis, keduanya harus digunakan secara bersamaan, jangan dipisah, apalagi cuma dipakai salah satunya. Itu semua agar kita mampu menghasilkan efisiensi dan efektifitas dalam berbisnis atau bisa juga untuk optimalisasi personal branding diri sendiri.

Sekarang pilihannya ada di tangan Anda. Tinggal Anda yang memanfaatkan keduanya demi relevansi bisnis Anda dalam menghadapi zaman yang serba digital ini, yang katanya orang-orang tengah berlomba mengumpulkan big data. Terlebih, saat artikel ini ditulis, sedang terjadi wabah Covid-19 yang mengharuskan adanya Lockdown dan Social distancing sehingga menjadi pukulan telak bagi kesehatan, sosial hingga ekonomi di berbagai belahan dunia.

Tinggalkan komentar